Diksi adalah ketepatan pilihan kata. Pada dasarnya diksi atau pilihan kata adalah hasil dari upaya memilih kata tertentu untuk dipakai dalam kalimat, alinea atau wacana. Pemilihan kata akan dapat dilakukan bila tersedia sejumlah kata yang artinya hampir sama atau mirip. Pemilihan kata bukanlah sekadar kegiatan memilih kata yang tepat, melainkan juga memilih kata yang cocok. Dalam memilih kata diperlukan analisis dan pertimbangan tertentu.


       Gaya bahasa itu ditentukan oleh ketepatan dan kesesuaian pilihan kata, kalimat, paragraf atau wacana menjadi efektif jika diekspresikan dengan gaya bahasa yang tepat. Gaya resmi, dapat membawa pembaca /pendengar ke dalam suasana serius dan penuh perhatian. Suasana tidak resmi mengarahkan pembaca/pendengar ke dalam situasi rileks tetapi efektif. Gaya percakapan membawa suasana ke dalam situasi realistis

Syarat syarat diksi ;

· Ketepatan pemilihan kata

Indikator ketepatan pemilihan kata antara lain:
1. Mengomunikasikan gagasan berdasarkan pilihan kata yang tepat dan sesuai berdasarkan kaidah bahasa Indonesia.
2. Menghasilkan komunikasi puncak (yang paling efektif)
3. Menghasilkan respon pembaca atau pendengar sesuai dengan harapan penulis atau pembaca.
4. Menghasilkan target komunikasi yang diharapkan.


Ketepatan pemilihan kata terdiri dari beberapa pilihan kata yaitu :

1. Denotatif
             Denotatif adalah makna wajar yang sesuai dengan apa adanya.
Contohnya : makan bermakna memasukkan sesuatu ke dalam mulut, dikunyah dan ditelan. Makna kata makan seperti ini adalah makna denotatif.

2. Konotatif
        Konotatif adalah makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial pribadi dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual. Makna konotatif tidak tetap.
Contohnya : kamar kecil mengacu pada kamar yang kecil(denotatif), tetapi kamar kecil berarti jamban (konotatif).

· Kesesuaian kata
Syarat kesesuaian kata, sebagai berikut :

1. Menggunakan ragam baku dengan cermat dan tidak mencampur adukan dengan kata tidak baku yang digunakan dalam pergaulan.
Contoh : hakikat(baku) : hakekat (tidak baku)
2. Menggunakan kata yang nakan kata ber dengan nilai sosial dengan cermat.
Contoh : kencing(kurang sopan) : buang air kecil (lebih sopan)
3. Menggunakan kata berpasangan dan berlawanan makna dengan cermat.
Contoh : sesuai bagi (salah) : sesuai dengan (benar)
4. Menggunakan kata dengan suasana tertentu,
Contoh : berjalan lambat, mengesot dan merangkak.
5. Menggunakan kata ilmiah untuk penulisan karya ilmiah dan komunikasi non ilmiah menggunakan kata populer.
Contoh : argumentasi ( ilmiah), pembuktian (populer)
6. Menghindarkan penggunaan ragam lisan (pergaulan) dalam bahasa tulis.
Contoh : tulis,baca,kerja (bahasa lisan) : menulis,membaca,mengerjakan (bahasa tulis)

Macam-Macam Makna

      Dalam kegiatan komunikasi, kata-kata dijalin-satukan dalam suatu konstruksi yang lebih besar berdasarkan kaidah-kaidah sintaksis yang ada dalam suatu bahasa. Yang paling penting dari rangkaian kata-kata adalah pengertian tersirat di balik kata yang digunakan itu. Pengertian tersirat dalam sebuah kata itu mengandung makna bahwa tiap kata mengungkapkan sebuah gagasan atau sebuah ide.

1. Makna Denotatif

         Makna denotatif seperti yang telah kita ketahui merupakan makna asli, makna asal, atau pun makna sebenarnya yang diimiliki sebuah kata dan tidak memiliki makna tersembunyi lain di dalamnya. Hampir sama dengan makna leksial, makna denotatif mengacu pada makna yang ada pada kamus atau literatur bahasa lain. Contoh kata ‘bunga’ memiliki artian denotatif tanaman bunga yang tumbuh di taman.  

Contoh lain makna denotatif:
    (1) Sikat : (dalam KBBI) – pembersih yang dibuat dari bulu (ijuk, serabut, dan                                            sebagainya) diberi berdasar dan berpegangan (bermacam – macam rupa).
  • Sikat gigi merek X diklaim oleh produsennya sebagai sikat gigi yang direkomendasikan oleh empat dari lima dokter gigi di dunia.
  • Noda rendang di bajuku sulit hilang meski telah aku rendam semalaman dan aku sikat berkali – kali.

    (2) Sapu : (dalam KBBI) – alat rumah tangga dibuat dari ijuk (lidi, sabut, dan sebagainya) yang diikat menjadi berkas, diberi bertangkai pendek atau panjang untuk membersihkan debu, sampah dan sebagainya.
  • Setiap pagi dan sore hari, ia rutin menyapu halaman rumahnya.
  • Sapu yang dibeli Dita di pasar tadi ternyata kualitasnya jelek, buktinya baru dipakai beberapa jam ijuknya sudah lepas kemana – mana.
  • Sapu terbang hanya ada di dongeng – dongen sihir seperti Harry Potter karangan J.K. Rowling.
2. Makna Konotatif
         Makna konotatif merupakan kebalikan dari makna denotative. Makna konotatif merupakan makna lain yang ditambahkan pada sebuah kata yang berhubungan dengan nilai rasa seseorang atau kelompok yang menggunakan kata tersebut. Misalnya, kata ‘kurus’, ‘ramping’, dan ‘kerempeng’ merupakan kata-kata yang bersinonim. Kata ‘kurus’ mengacu pada keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran normal. Kata ‘ramping’ yang bersinonim dengan kata ‘kurus’ memiliki konotasi positif, yaitu nilai yang mengenakkan, atau dengan kata lain oerang akan senang apabila dikatakan ramping.

Contoh lain makna konotatif:
  • · Lagu ‘Gugur Bunga’ diciptakan untuk menghormati dan mengenang jasa para bunga bangsa yang gugur di medan (Artinya: Lagu ‘Gugur Bunga’ diciptakan untuk menghormati dan mengenang jasa para pahlawan yang gugur di medan perang.)
  • · Dia merupakan tangan kanan pimpinan organisasi tersebut, sehingga kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. (Artinya: Dia merupakan orang kepercayaan pimpinan organisasi tersebut, sehingga kemampuannya tidak perlu diragukan lagi.)
  • · SMA 3 Jayakarsa menyapu bersih semua medali emas di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun ini (Artinya: SMA 3 Jayakarsa memenangkan semua medali emas di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun ini.)
  • · Ari berkeringat dingin menunggu giliran wawancara kerjanya siang ini. (Artinya : Ari gugup menunggu giliran wawancara kerjanya siang ini.)
  • · Rubah itu tertangkap tangan ketika akan memangsa telur – telur ayam milik warga. (Rubah itu tertangkap langsung saat kejadian ketika akan memangsa telur – telur ayam milik warga.

Diksi dengan Dunia Nyata
          Telah dikemukakan bahwa kata atau bentuk bahasa mempunyai relasi dengan dunia nyata. Sehingga istilah referensi dipakai untuk menyatakan relasi antara bahsa dengan sesuatu yang bukan bahasa. Bidang yang mempelajari hubungan itu biasanya disebut semantik. Relasi semacam ini dibedakan menjadi 2 macam yaitu :

a. Konteks Nonlinguistis
      Konteks ini mencakup dua hal yaitu hubungan antar kata dan barang atau hal, dan hubungan antara bahasa dan masyarakat atau yang disebut dengan konteks sosial. Contoh: Istri kawan saya dan bini kawan saya; buaya darat itu telah melahap semua harta bendanya dan orang itu telah melahap semua harta bendanya; kami minta maaf dan kami mohon ampun.

b. Konteks Linguistis
         Konteks linguistis adalah hubungan anatar unsur bahsa yang satu dengan unsur bahsa yang lain. Konteks ini mencakup konteks hubungan antara kata dengan kata dalam frasa atau kalimat, hubungan antar frasa dalam sebuah kalimat atau wacana, dan juga hubungan antar kalimat dalam wacana. Contoh: Rumah ayah terletak di ujung jalan; ada wisata alam yang bernama rumah batu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kedudukan Bahasa Indonesia