Struktur Leksikal
Yang dimaksud dengan struktur leksikal adalah bermacam-macam relasi semantik yang terdapat pada kata. Hubungan antara kata itu dapat terwujud: sinonimi, polisemi, hiponimi, dan antonimi.
1 Sinonimi
Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Misalnya, antara kata betul dengan kata benar. Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama. Ketidak samaan itu terjadi karena berbagai faktor, antara lain:
1. Faktor waktu.
2. Faktor tempat atau wilayah.
3. Faktor keformalan.
4. Faktor sosial..
5. Bidang kegiatan.
6. Faktor nuansa makna.
Contoh dari penggunaan sinonim yaitu:
- Kata manipulasi bersinonim dengan kecurangan, penggelapan, penimbunan, spekulasi
- Kata stabil bersinonim dengan mantap, kuat, tidak goyah, tetap, kukuh
- Kata senang bersinonim dengan puas, lega, tidak kecewa, suka, gembira, sukacita, girang, nyaman
2. Antonimi
Istilah antonimi (Inggris: antonymy berasal dari bahasa Yunani Kuno anoma = nama, dan anti = melawan). Makna harafiahnya, nama lain untuk benda yang lain. Verhaar (1983:133) mengatakan: “Antonim adalah ungkapan (biasanya kata, tetapi dapat juga frasa atau kalimat) yang dianggap kebalikan dari ungkapan lain”. Secara mudah dapat dikatakan, antonim adalah kata-kata yang maknanya berlawanan. Istilah antonim kadang-kadang dipertentangkan dengan istilah sinonim, tetapi status kedua istilah ini berbeda. Antonim biasanya teratur dan terdapat identifikasi secara tepat. Contoh kata-kata yang antonim. besar x kecil lebar x sempit panjang x pendek.
1. Operasi Kembar: oposisi yang mencakup dua anggota seperti: laki-laki – wanita; jantan – betina; hidup – mati.
2. Oposisi majemuk, oposisi yang mencakup suatu perangkat yang terdiri dari dua kata. Oposisi ini bertalian dengan hiponim-hiponim dalam kelas. Contoh: baju itu tidak merah, maka dalam kalimat ini mencakup pengertian bahwaBaju itu hijau atau baju itu hitam, dan sebagainya.
3. Oposisi gradual, antara dua istilah yang berlawanan masih terdapat sejumlah tingkatan. Misalnya: Rumah kami tidak besar tidak mencakup pengertian Rumah kami kecil, walaupun Rumah kami besar mencakup pula pengertian rumah kami tidak kecil.
4. Opoisi relasional, oposisi antara dua kata yang mengandung relasi kebalikan. Misalnya: Ali menjual seekor sapi pada Tono – tono membeli seekor sapi dari Ali; ayah memberi anaknya sebuah rumah – anak menerima sebuah rumah dari ayahnya; Tono adalah orang tua dari Tini – Tini adalah anak dari Tono.
5. Oposisi hirarkis, oposisi yang terjadi karena tiap istilah menduduki derajat yang berlainan. Oposisi ini sebenarnya oposisi majemuk, namun di sini terdapat suatu kriteria tambahan tingkat. Misalnya: milimeter – centimeter – desimeter – meter, dan sebagainya
6. Oposisi inversi, oposisi yang terdapat pada pasangan kata seperti: beberapa – semua, mungkin – wajib, boleh – harus, tetap – menjadi. Misalnya:
- “Beberapa negara tidak memiliki pantai” sinonim dengan “Tidak semua negara memiliki pantai”.
- “Semua kucing bukan kerbau” sinonim dengan “Tak ada kucing adalah kerbau”.
3. Hiponimi
Istilah hiponimi (Inggris: hyponymy berasal dari bahasa Yunani Kuno anoma = nama, dan hypo = di bawah). Secara harafiah istilah hiponimi adalah nama yang termasuk di bawah nama lain. Verhaar (1983:131) mengatakan: “Hiponim ialah ungkapan (kata biasanya atau kiranya dapat juga frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan lain.”
Istilah hiponim dalam bahasa Indonesia boleh digunakan sebagai nominal, boleh juga ajektiva. Kita mengetahui bahwa aster, bogenfil, ros, tulip semuanya disebut bunga.
Istilah hiponim dalam bahasa Indonesia boleh digunakan sebagai nominal, boleh juga ajektiva. Kita mengetahui bahwa aster, bogenfil, ros, tulip semuanya disebut bunga.
4. Polisemi
Polisemi Sebuah kata atau satuan ujaran disebut polisemi jika kata itu mempunyai makna lebih dari satu. Misalnya, kata kepala yang setidaknya mempunyai makna yaitu:
1. Bagian tubuh manusia
2. Ketua atau pemimpin
3. Sesuatu yang berada disebelah atas
4. Sesuatu yang berbentuk bulat.
Dalam kasus polisemi ini, biasanya makna pertama (yang didaftarkan di dalam kamus) adalah makna sebenarnya, makna leksikalnya, makna denotatifnya, atau makna konseptualnya. Yang lain adalah makna-makna yang dikembangkan berdasarkan salah satu komponen makna yang dimiliki kata atau satuan ujaran itu.
Contoh:
· Kata bunga merupakan sebuah superordinat yang membawahi sejumlah hiponim antara lain: mawar, melati, sedap malam, flamboyan, dan gladiol.
· Kata mawar yang menjadi hiponim juga dapat menjadi superordinat dengan membawahi mawar merah, mawar putih, mawar kuning.
· Kata binatang menjadi superordinat yang membawahi kata burung, ikan, banatang menyusui.
5. Homonimi
Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama, maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. Misalnya antara kata pacar yang bermakna ‘inai’ dan kata pacar yang bermakna ‘kekasih’. Antara kata bisa yang berarti ‘racun ular’ dan kata bisa yang berarti ‘sanggup’, dan juga antara kata mengurus yang berarti ‘mengatur’ dan kata mengurus yang berarti ‘menjadi kurus’.
Sama dengan sinonimi dan antonimi, relasi antara dua buah satuan ujaran yang homonimi juga berlaku dua arah. Jadi kalau pacar I yang bermakna ‘inai’ berhomonim dengan kata pacar II yang bermakna ‘kekasih’ maka pacar II juga berhomonim dengan pacar I. Pada kasus homonimi ini ada dua istilah lain yang biasa dibicarakan, yaitu homofoni dan homografi. Yang dimaksud dengan homofoni adalah adanya kesamaan bunyi antara dua satuan ujran, tanpa memperhatikan ejaannya, apakah ejaannya sama ataukah berbeda. Istilah homografi mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografinya atau ejaannya, tetapi ucapan dan maknanya tidak sama. Contoh homografi yang ada dalam bahasa Indonesia tidak banyak. Kita hanya menemukan kata teras/təras/yang maknanya ‘inti’ dan kata teras/teras/yang maknanya ‘bagian serambi rumah’.
Sama dengan sinonimi dan antonimi, relasi antara dua buah satuan ujaran yang homonimi juga berlaku dua arah. Jadi kalau pacar I yang bermakna ‘inai’ berhomonim dengan kata pacar II yang bermakna ‘kekasih’ maka pacar II juga berhomonim dengan pacar I. Pada kasus homonimi ini ada dua istilah lain yang biasa dibicarakan, yaitu homofoni dan homografi. Yang dimaksud dengan homofoni adalah adanya kesamaan bunyi antara dua satuan ujran, tanpa memperhatikan ejaannya, apakah ejaannya sama ataukah berbeda. Istilah homografi mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografinya atau ejaannya, tetapi ucapan dan maknanya tidak sama. Contoh homografi yang ada dalam bahasa Indonesia tidak banyak. Kita hanya menemukan kata teras/təras/yang maknanya ‘inti’ dan kata teras/teras/yang maknanya ‘bagian serambi rumah’.
Unsur Gaya Bahasa
Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorik dengan istilah style. Secara umum, gaya adalah cara mengungkapkan diri sendiri, entah melalui bahasa, tingkah laku, berpakaian, dan sebagaianya. Dilihat dari segi bahasa, gaya bahasa adalah cara mengunakan bahasa.
Gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa).
Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur berikut:
· Kejujuran
Kejujuran dalam bahasa berarti adalah kita mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Yaitu pemakaian kata-kata yang kabur dan tak terarah, serta penggunaan kalimat yang berbelit-belit adalah jalan untuk mengundang ketidakjujuran.
Bahasa adalah alat untuk kita bertemu dan bergaul. Sebab itu, ia harus digunakan pula secara tepat dengan memperhatikan sendi kejujuran.
· Sopan Santun
Sopan santun adalah memberi penghargaan atau menghormati orang yang diajak berbicara, khususnya pendengar atau pembaca. Rasa hormat dalam gaya bahasa dimanifestasikan melalui kejelasan dan kesingkatan. Menyampaikan sesuatu dengan jelas berate tidak membuat pembaca atau pendengar memeras keringat untuk mecari tahu apa ang ditulis atau dikatakan. Kejelasan akan diukur dalam beberapa butir kaidah berikut, yaitu :
1. Kejelasan dalam struktur gramatikal kata dan kalimat;
2. Kejelasan dalam korespodensi dengan fakta yang diungkapkan melalui kata- kata atau kalimat tadi;
3. Kejelasan dalam pengurutan ide secara logis;
4. Kejelasan dalam penggunaan kiasan dan pebandingan.
Kesingkatan lebih efektif dan mempergunakan kata – kata secara efisien, meniadakan penggunaan dua kata yang maknanya sama. Dianatara kejelasan dan kesingkatan sebagai ukuran sopan – santun,syarat kejelasan lebih penting daripada syarat kesingkatan.
· Menarik
Kejujuran, kejelasan maupun kesingkatan merupakan langkah dasar dan langkah awal maka bahasa yang digunakan masih tawar atau tidak menarik. Sebab itu, gaya bahasa harus pula menarik. Sebuah gaya menarik dapat diukur melalui beberapa komponen berikut : variasi,humor yang sehat, pengertian yang baik, tenaga hidup( vitalitas), dan penuh gaya khayal (imajinasi).
Humor sehat adalah gaya bahasa itu mengandung tenaga untuk menciptakan rasa gembira dam nikmat. Vitalitas dan daya khayal adalah pembawaan yang berangsur – angsur dikembangkan melalui pendidikan, latihan, dan pengalaman.
Jenis-Jenis Gaya Bahasa
Gaya bahsa dapat ditinjau dari bermacam – macam sudut pandangan. Pandangan – pandangan atau pendapat – pendapat tentang gaya bahasa sejauh ini sekurang – kurangnya dapat dibedakan, pertama dilihat dari segi non bahasa dan kedua dilihat dari segi bahasanya.
· Segi Non Bahasa
Pengikut aristteles menerima styles sebagai hasil dari bermacam – macam unsur. Pada dasarnya style dapat dibagi atas tujuh pokok sebagai berikut:
1. Berdasarkan pengarang : Gaya yang disebut sesuai dengan nama pengarang dikenal berdasarkan ciri pengenal yang digunakan pengarang atau penulis dalam karangannya. Seperti kita mengenal gaya Chairil, gaya Takdir, dan sebagaianya.
2. Berdasarkan Masa : gaya bahasa yang didasarkan pada masa dikenal karena ciri-ciri tertentu yang berlangsung dalam suatu kurun waktu tertentu. Misalnya ada gaya lama, gaya klasik, gaya sastra modern, dan sebagaianya.
3. Berdasarkan Medium : yaitu bahasa dalam arti alat komunikasi.
4. Berdasarkan Subyek : Subyek yang menjadi pokok pembicaraan dalam sebuah karangan dapat mempengaruhi pula gaya bahasa sebuah karangan. Berdasarkan hal ini kita mengenal gaya: filsafat ilmiah ( hukum, teknik, sastra, dan sebagainya), popular, didaktik, dan sebagainya.
5. Berdasarkan Tempat : Gaya ini mendapatkan namanya dari lokasi geografis, karena ciri-ciri kedaerahan mempengaruhi ungkapan atau ekpresi bahasanya.
6. Berdasarkan Hadirin: Gaya bahasa ini juga mempengaruhi gaya yang dipergunakan seorang pengarang. Ada gaya popular atau gaya demagog yang cocok untuk rakyat banyak. Ada gaya yang sopan untuk lingkungan yang terhormat. Ada pula gaya intim (familiar) yang cocok untuk lingkungan keluarga.
7. Berdasarkan Tujuan: Gaya Berdasarkan tujuan memperoleh namanya dari maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang, dimana pengarang ingin mencurahkan gejolak emotifnya.
2.5.1 Segi Bahasa
Dilihat dari segi bahasa atau unsur-unsur bahasa yang digunakan, maka gaya bahasa dapat dibedakan berdasarkan titik tolak unsur bahasa yang dipergunakan, yaitu:
a. Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata
Dalam bahasa standar (bahasa baku) dapatlah dibedakan: gaya bahasa resmi (bukan bahasa resmi), gaya bahasa takresmi dan gaya bahasa percakapan. Gaya bahasa dalam tingkatan bahasa nonstandar tidak akan dibicarakan di sini, karena tidak akan berguna dalam tulisan-tulisan ilmiah atau ilmiah populer.
(1) Gaya Bahasa Resmi
Gaya bahasa resmi adalah gaya dalam bentuknya yang lengkap, gaya yang dipergunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya yang dipergunakan oleh mereka yang diharapkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara
Gaya bahasa resmi adalah gaya dalam bentuknya yang lengkap, gaya yang dipergunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya yang dipergunakan oleh mereka yang diharapkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara
(2) Gaya Bahasa Tak Resmi
Gaya bahasa tak resmi juga merupakãn gaya bahasa yang dipergunakan dalam bahasa standar, khususnya dalam kesempataflkesempatan yang tidak krmal atau kurang formal. Bentuknya tidak terlalu konservatif.. Singkatnya gaya bahasa tak resmi adalah gaya bahasa yang umum dan normal bagi kaum terpelajar.
Gaya bahasa tak resmi juga merupakãn gaya bahasa yang dipergunakan dalam bahasa standar, khususnya dalam kesempataflkesempatan yang tidak krmal atau kurang formal. Bentuknya tidak terlalu konservatif.. Singkatnya gaya bahasa tak resmi adalah gaya bahasa yang umum dan normal bagi kaum terpelajar.
(3) Gaya Bahasa Percakapan
Sejalan dengan kata-kata percakapan, terdapat juga gaya bahasa percakapan. Dalam gaya bahasa ini, pilihan katanya adalah kata-kata populer dan kata-kata percakapan. Namun di sini harus ditambahkan segi-segi morfologis dan sintaksis, yang secara bersama-sama membentuk gaya bahasa percakapan ini. Kalau dibandingkan dengan gaya bahasa resmi dan gaya bahasa tak resmi, maka gaya bahasa percakapan ini dapat diumpamakan sebagai bahasa dalam pakaian sport.
Sejalan dengan kata-kata percakapan, terdapat juga gaya bahasa percakapan. Dalam gaya bahasa ini, pilihan katanya adalah kata-kata populer dan kata-kata percakapan. Namun di sini harus ditambahkan segi-segi morfologis dan sintaksis, yang secara bersama-sama membentuk gaya bahasa percakapan ini. Kalau dibandingkan dengan gaya bahasa resmi dan gaya bahasa tak resmi, maka gaya bahasa percakapan ini dapat diumpamakan sebagai bahasa dalam pakaian sport.
Gaya bahasa berdasarkan nada yang terkandung dalam wacana
Gaya bahasa berdasarkan nada didasarkan pada sugesti yang dipancarkan dan rangkaian kata-kata yang terdapat dalam sebuah wacana. Sering kali sugesti ini akan lebih nyata kalau diikuti dengan sugesti suara dan pembicara, bila sajian yang dihadapi adalah bahasa lisan.
Dengan latar belakang ini gaya bahasa dilihat dan sudut nada yang terkandung dalam sebuah wacana, dibagi atas: gaya yang sederhana, gaya mulia dan bertenaga, serta gaya menengah.
(1) Gaya Sederhana
Gaya ini biasanya cocok untuk memberi instruksi, perintah, pelajaran, perkuliahan, dan sejenisnya. Sebab itu untuk mempergunakan gaya ini secara.
(2) Gaya Mulia dan Bertenaga
Sesuai dengan namanya, gaya ini penuh dengan vitalitas dan enersi, Ian biasanya dipergunakan untuk menggerakkan sesuatu. Menggerakkan sesuatu tidak saja dengan mempergunakan tenaga dan vitalitas pembicara, tetapi juga dapat mempergunakan nada keagungan dan kemuliaan. Nada yang agung dan mulia akan anggup pula menggerakkan emosi setiap pendengar.Tetapi di balik keagungan dan kemuliaan itu terdapat tenaga penggerak yang luar biasa, tenaga yang benar-benar mampu menggetarkan emosi para pendengar atau pembaca.
(3) Gaya Menengah
Gaya menengah adalah gaya yang diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan suasana senang dan damai. Karena tujuannya adalah menciptakan suasana senang dan damai, maka nadanya juga bersifat lemah-lembut, penuh kasih sayang, dan mengandung humor yang sehat. Pada kesempatan-kesempatan khusus seperti pesta, pertemuan, dan rekreasi, orang lebih menginginkan ketenangan dan kedamaian. Akan ganjillah rasanya, atau akan timbul disharmoni, kalau dalam suatu pesta pernikahan ada orang yang memberi sambutan berapi-api, mengerahkan segala emosi dan tenaga untuk menyampaikan sepatah kata.
Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat
Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat adalah kalimat dimana tempat sebuah unsur kalimat yang dipentingkan dalam kalimat tersebut, ada kalimat yang bersifat periodik yaitu bagian kalimat yang tekanankan ada dibagian akhir. Ada klimat kendur yaitu bila bagian kalimat yang diberi penekanan di bagian awal
· Klimaks
Gaya bahasa klimaks diturunkan dan kalimat yang bersifat periodik. Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dan gagasan-gagasan sebelumnya. Klimaks disebut juga gradasi. Istilah ini dipakai sebagai istilah umum yang sebenamya merujuk kepada tingkat atau gagasan tertinggi. Bila klimaks itu terbentuk dan beberapa gagasan yang berturut-turut semakin tinggi kepentingannya, maka ia disebut anabasis. Contoh:
Gaya bahasa klimaks diturunkan dan kalimat yang bersifat periodik. Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dan gagasan-gagasan sebelumnya. Klimaks disebut juga gradasi. Istilah ini dipakai sebagai istilah umum yang sebenamya merujuk kepada tingkat atau gagasan tertinggi. Bila klimaks itu terbentuk dan beberapa gagasan yang berturut-turut semakin tinggi kepentingannya, maka ia disebut anabasis. Contoh:
- Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman, dan pengalaman harapan.
(1) Antiklimaks
Antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur. Antiklimaks sebagai gaya bahasa merupakan suatu acuan yang gagasan-gagasannya diurutkan dan yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting. Antiklimaks sering kurang efektif karena gagasan yang penting ditempatkan pada awal kalimat, sehingga pembaca atau pendengar tidak lagi memberi perhatian pada bagian-bagian berikutnya dalam kalimat itu. Contoh: Ketua pengadilan negeri itu adalah seorang yang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namanya (mengandung ironi).
Antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur. Antiklimaks sebagai gaya bahasa merupakan suatu acuan yang gagasan-gagasannya diurutkan dan yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting. Antiklimaks sering kurang efektif karena gagasan yang penting ditempatkan pada awal kalimat, sehingga pembaca atau pendengar tidak lagi memberi perhatian pada bagian-bagian berikutnya dalam kalimat itu. Contoh: Ketua pengadilan negeri itu adalah seorang yang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namanya (mengandung ironi).
(2) Paralelisme
Paralelisme adalah semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Kesejajaran tersebut dapat pula berbentuk anak kalimat yang bergantung pada sebuah induk kalimat yang sama. Gaya ini lahir dan struktur kalimat yang berimbang. Contoh: Baik golongan yang tinggi maupun golongan yang rendah, harus diadili kalau bersalah. (Tidak baik: Baik golongan yang tinggi maupun mereka yang rendah kedudukannya, harus diadili kalau bersalah)
Paralelisme adalah semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Kesejajaran tersebut dapat pula berbentuk anak kalimat yang bergantung pada sebuah induk kalimat yang sama. Gaya ini lahir dan struktur kalimat yang berimbang. Contoh: Baik golongan yang tinggi maupun golongan yang rendah, harus diadili kalau bersalah. (Tidak baik: Baik golongan yang tinggi maupun mereka yang rendah kedudukannya, harus diadili kalau bersalah)
(3) Antitesis
Antitesis adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan. Gaya ini timbul dan kalimat berimbang. Perhatikan contoh berikut: Mereka sudah kehilangan banyak dari harta bendanya, tetapi mereka juga telah banyak memperoleh keuntungan daripadanya; kaya-miskin, tua-muda, semuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa dan negara.
Antitesis adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan. Gaya ini timbul dan kalimat berimbang. Perhatikan contoh berikut: Mereka sudah kehilangan banyak dari harta bendanya, tetapi mereka juga telah banyak memperoleh keuntungan daripadanya; kaya-miskin, tua-muda, semuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa dan negara.
(4) Repetisi
Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Dalam bagian in hanya akan dibicarakan repetisi yang berbentuk kata atau frasa atau klausa. Karena nilainya dianggap tinggi, maka dalam oratori timbullah bermacam-macam variasi repetisi. Macam-macam repetisinya yaitu:
Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Dalam bagian in hanya akan dibicarakan repetisi yang berbentuk kata atau frasa atau klausa. Karena nilainya dianggap tinggi, maka dalam oratori timbullah bermacam-macam variasi repetisi. Macam-macam repetisinya yaitu:
(1) Epizeuksis: repetisi yang bersifat langsung, artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-tunut. Misalnya: Kita harus bekerja, bekerja, sekali lagi bekerja untuk mengejar semua ketinggalan kita.
(2) Tautotes: repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi. Misalnya: Kau menuding aku, aku menuding kau, kau dan aku menjadi seteru.
(3) Anafora: adalah repetisi yang berwujud perulangan kata pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya. Misalnya:
— Tapi berdosakah aku, kalau aku bawakan air selalu menyiramnya, hingga pohonku berdaun rimbun, tempat aku mencari lindung? Berdosakah aku bersandar ke batang yang kuat berakar melihat tamasya yang molek berdandan menyambut fajar kata Itahi? Berdosakah aku kalau burungku kecil hinggap di dahan rampak menyanyi sunyi melega hati?
(4) Epistrofa: adalah repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir baris atau kalimat berurutan. Misalnya:
— Bumi yan kau diami, taut yang kaulayari adalah puisi
Udara yang kauhirupi, air yang kauteguki adalah puisi
Kebun yang kautanaini, bukit yang kaugunduli adalah puisi
Gubuk yang kauratapi, gedung yang kautinggali adalah puisi
— Tapi berdosakah aku, kalau aku bawakan air selalu menyiramnya, hingga pohonku berdaun rimbun, tempat aku mencari lindung? Berdosakah aku bersandar ke batang yang kuat berakar melihat tamasya yang molek berdandan menyambut fajar kata Itahi? Berdosakah aku kalau burungku kecil hinggap di dahan rampak menyanyi sunyi melega hati?
(4) Epistrofa: adalah repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir baris atau kalimat berurutan. Misalnya:
— Bumi yan kau diami, taut yang kaulayari adalah puisi
Udara yang kauhirupi, air yang kauteguki adalah puisi
Kebun yang kautanaini, bukit yang kaugunduli adalah puisi
Gubuk yang kauratapi, gedung yang kautinggali adalah puisi
(5) Simploke (symploehe): simploke adalah repetisi pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut. Misalnya:
— kamu bilang hidup ini brengsek. Aku bilang biarin
kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin
— kamu bilang hidup ini brengsek. Aku bilang biarin
kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin
(6) Mesodiplosis: adalah repetisi di tengah baris-baris atau beberapa kalimat berurutan. Misalnya:
— Pegawai kecil jangan mencuri kertas karbon
Babu-babu jangan mencuri tulang-tulang ayam goreng
Para pembesar jangan mencuri bensin
Para gadis jangan mencuri perawannya sendiri
— Pegawai kecil jangan mencuri kertas karbon
Babu-babu jangan mencuri tulang-tulang ayam goreng
Para pembesar jangan mencuri bensin
Para gadis jangan mencuri perawannya sendiri
(7) Epanalepsis: pengulangan yang berwujud kata terakhir dan baris, klausa atau kalimat, mengulang kata pertama. Misalnya:
— Kita gunakan pikiran dan perasaan kita.
— Kami cintai perdamaian karena Tuhan kami.
— Berceriteralah padaku, ya malam, berceriteralah.
— Kuberikan selulusnya, apa yang harus kuberikan.
— Kita gunakan pikiran dan perasaan kita.
— Kami cintai perdamaian karena Tuhan kami.
— Berceriteralah padaku, ya malam, berceriteralah.
— Kuberikan selulusnya, apa yang harus kuberikan.
(8) Anadiplosis: kata atau frasa terakhir dan suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dan klausa atau kalimat berikutnya. Misalnya:
— dalam laut ada tiram, dalam tiram ada mutiara dalam mutiara: ah tak ada apa dalam baju ada aku, dalam aku ada hati dalam hati. ah tak apa jua yang ada dalam syair ada kata, dalam kata ada makna dalam makna: Mudah-mudahan ada Kau!
— dalam laut ada tiram, dalam tiram ada mutiara dalam mutiara: ah tak ada apa dalam baju ada aku, dalam aku ada hati dalam hati. ah tak apa jua yang ada dalam syair ada kata, dalam kata ada makna dalam makna: Mudah-mudahan ada Kau!
b. Gaya bahasa berdasarkan langsung atau tidaknya makna
i. Gaya Bahasa Retoris
Macam-mcam gaya bahasa retoris seperti yang dimaksud di atas adalah,
1. Aliterasi
Aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang dalam prosa, untuk perhiasan atau untuk penekanan. Misalnya: Takut titik lalutumpuk; Keras-keras kerah kena air lembut juga.
2. Asonansi
Asonansi adalah semacam gayah bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sanam. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang juga dalam prosa untuk memperoleh efek penekanan atau sekedar keindahan. Misalnya: Ini muka penuh luka siapa punya; Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.
3. Anastrof
Anastrof atau inversi adalah semacam gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat.
Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat perangainya.
Bersorak-sorak orang di tepi jalan memukul bermacam-macam bunyi-bunyian melalui gerbang dihiasi bungan dan panji berkibar.
4. Apofasis atau Preterisio
Apofasis atau disebut juga preterisio merupakan sebuah gaya dimana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya mengangkal. Berpura-pura membiarkan sesuatu berlalu, tetapi sebenarnya ia menekankan hal itu. Misalnya: Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa Saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara.
5. Apostrof
Apostrof adalah gaya yang berbentuk pengalihan amanat dari para haridi kepada sesuatu yang tidak hadir. Misalnya: Hai kamu dewa-dewa yang berada di surga, datanglah dan bebaskanlah kami dari belenggu penindasan ini.
6. Asindeton
Asindeton adalah suatu gaya yang berupa acuan yang bersifat padat mampat di mana beberapa kata, frasa, atau klasua yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung. Contoh: Dan kesesakkan, kepedihan, kesakitan, seribu detita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.
7. Polisindeton
Polisindeton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asindeton. Beberapa kata, frasa. Atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung, Misalnya: Dan ke manakah burung-burung yang gelisah dantak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang bakal merontokkan bulu-bulunya?
8. Kiasmus
Kiasmus adalah semacam acuan atau gaya bahasa yangg terdiri dari dua bagian, baik frasa atau klausa yang sifatnya berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain tapi susunan frasa atau klausa nya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa atau klausa lain. Misalnya: Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untu melanjutkan usaha itu
9. Elipsis
Elipsis adalah suatu gaya yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang mudah dapat diiisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca oleh pendengar, sehingga struktur dramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku. Misalnya: Masihkah kau tidak percaya bahwa dari segi fisik engkau tak apa-apa, badanmu sehat: tetapi psikis....
10. Eufemismus
Eufemisme adalah semacam acuan berupa ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang atau ungkapan-ungkpana yang halus untuk menggantikan acuan-acuan yang mungkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan atau mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan. Misalnya: Ayahnya sudah tidak ada di tengah-tengah mereka (=mati)
11. Litotes
Litotes adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Misalnya: saya tidak akan memrasa bahagia bila mendapatkan warisan 1 milyar rupiah
12. Histeron Proteron
Histeron proteron adalah semacam gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar. Misalnya: Jendela ini telah memberi sebuah kamar padamu untuk berteduh dengan tenang.
13. Pleonasme atau Tautologi
Pleonasme adalah acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak dari pada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. Misalnya: Ia tiba jam 20.00 malam waktu setempat; Globe itu bundar bentuknya.
14. Perifrasis
Perifrasis adalah gaya yang mirip dengan pleonasme, yaitu mempergunakan kata lebih banyak dari yang diperlukan perbedaannya terletak dalam hal bahwa kata-kata yang berlebihan itu sebenarnya dapat diganti dengan satu kata saja. Misalnya: Ia telah beristirahat dengan damai (= mati, atau meninggal)
15. Prolepsis atau Antisipasi
Polepsis atau antisipasi adalah semacam gaya bahasa dimana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi. Misalnya: Almarhum Pardi pada waktu itu menyatakan bahwa ia tidak mengenal orang itu; Kedua orang itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu; Pada pagi yang naas itu, ia mengendarai sebuah sedan biru.
16. Erotesis atau Pertanyaan Retoris
Erotesis dan pertanyaan retoris adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban. Misalnya: Terlalu banyak komisi dan perantara masing-masing menghendaki pula imbalan jasa. Herankah Saudara kalau harga-harga itu terlalu tinggi?; apakah saya menjadi wali kakak saya?
17. Silepsis dan Zeugma
Silepsis dan zeugma adalah gaya dimana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertamanya.
Dalam silepsis, konstruksi yang dipergunakan itu secara gramatikal benar, tetapi secara semantik tidak benar.
Ia sudah kehilangan topi dan semangtanya; Fungsi dan sikap bahasa.
Dalam zeugma kata yang dipakai untuk membawahi kedua kata berikutnya, sebenarnya hanya cocok untuk salah satu daripadanya (baik secara logis maupun secara gramatikal). Misalnya: Dengan membelalakan matadan telinganya, ia mengusir orang itu; Ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada kami.
18. Koreksio atau Epanortosis
Koreksio atau epanortosis adalah suatu gaya yang berwujud mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya. Misalnya: Sudah empat kali saya mengunjungi daerah itu, ah buka, sudah lima kali.
19. Hiperbola
Hiperbola adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal. Misalnya: Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga hampir-hampir meledak aku; Jika kau terlambat sedikit saja, pasti kau tidak akan diterima lagi.
20. Paradoks
Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena kebenarannya. Misalnya: Musuh sering merupakan kawan yang akrab; Ia mati kelaparan di tengah-tengah kekayaannya yang berlimpah-limpah.
21. Oksimoron
Oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama, dan sebab itu sifatnya lebih padat dan tajam dari paradoks. Misalnya:Keramah-tamahan yang bagus; untuk menjadi manis seseorang harus menjadi kasar; itu sudah menjadi rahasia umum; dengan membisu seribu kata, mereka sebenarnya berteriak-teriak agar diperlakukan dengan adil.
ii. Gaya Bahasa Kiasan
Gaya bahasa kiasan ini menurut pendapat Keraf (1985 : 136) adalah pertama-tama dibentuk berdasarkan perbandingan atau perasaan. Membandingkan sesuatu dengan sesuatu hal yang lain, berarti mencoba menemukan ciri-ciri yang menunjukkan kesamaan antara kedua hal tersebut. Perbandingan sebenarnya mengandung dua pengertian, yaitu perbandingan yang termasuk dalam gaya bahasa yang polos atau langsung, dan perbandingan yang termasuk dalam gaya bahasa kiasan.
1. Persamaan atau Simile
Persamaan atau simile adalah perbandirigan yang bersifat eksplisit. Yang dimaksud dengan perbandingan yang bersifat eksplisit ialah bahwa ia langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu, ia memerlukan upaya yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan itu, yaitu kata-kata: seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, dan sebagainya.
Kikimya seperti kepiting batu
Bibirya seperti delima merekah
Matanya seperti bintang timur
Persamaan atau simile adalah perbandirigan yang bersifat eksplisit. Yang dimaksud dengan perbandingan yang bersifat eksplisit ialah bahwa ia langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu, ia memerlukan upaya yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan itu, yaitu kata-kata: seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, dan sebagainya.
Kikimya seperti kepiting batu
Bibirya seperti delima merekah
Matanya seperti bintang timur
Kadang-kadang diperoleh persamaan tanpa menyebutkan obyek pertama yang mau dibandirigkan, seperti:
Bagai air di daun talas
Bagai duri dalam daging
Bagai air di daun talas
Bagai duri dalam daging
Persamaan masih dapat dibedakan lagi atas persamaan tertutup dan persamaan terbuka. Persamaan tertutup adalah persamaan yang mengandung perincian mengenai sifat persamaan itu, sedangkan persamaan terbuka adalah persamaan yang tidak mengandung perincian mengenai sifat persamaan itu; pembaca atau pendengar diharapkan akan mengisi sendiri sifat persamaannya. Misalnya:
Tertutup: Saat menantikan pengumuman hasil ujian terasa tegang seperti mengikuti pertandingan bulu tangkis dalam set terakhir dengan kedudukan 14 – 14.
Terbuka: Saat menantikan pengumuman hasil ujian terasa seperti mengikuti pertandingan bulutangkis dalam set terakhir dengan kedudukan 14- 14.
2. Metafora
Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya.
Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya.
Metafora sebagai perbandingan langsung tidak mempergunakan kata: seperti, bak, bagai, bagaikan, dan sebagainya, sehingga pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua. Proses terjadinya sebenanya sama dengan simile tetapi secara berangsur-angsur keterangan mengenai persamaan dan pokok pertama dihilangkan, misalnya:
Pemuda adalah seperti bunga bangsa. —> Pemuda adalah bunga
bangsa, Pemuda —> Bunga bangsa
Orang itu seperti buaya darat. —* Orang itu adalah buaya darat.
Orang itu —> buaya darat.
Pemuda adalah seperti bunga bangsa. —> Pemuda adalah bunga
bangsa, Pemuda —> Bunga bangsa
Orang itu seperti buaya darat. —* Orang itu adalah buaya darat.
Orang itu —> buaya darat.
3. Alegori, Parabel, dan Fabel
Alegori adalah suatu cerita singkat yang mengandung kiasan. Makna kiasan ini harus ditarik dari bawah permukaan ceritanya. Dalam alegori, nama-nama pelakunya adalah sifat-sifàt yang abstrak, serta tujuannya selalu jelas tersurat. Parabel (parabola) adalah suatu kisah singkat dengan tokoh-tokoh biasanya manusia, yang selalu mengandung tema moral. lstilah parabel dipakai untuk menyebut cerita-cerita fiktif di dalam Kitab Suci yang bersifat alegoris, untuk menyampaikan suatu kebenaran moral atau kebenaran spiritual. Fabel adalah suatu metafora berbentuk cerita mengenai dunia binatang, di mana binatang-binatang bahkan makhluk-makhluk yang tidak bemyawa bertindak seolah-olah sebagai manusia. Tujuan fabel seperti parabel ialah menyampaikan ajaran moral atau budi pekerti. Fabel menyampaikan suatu prinsip tingkah laku melalui analogi yang transparan dan tindak-tanduk binatang, tumbuh-tumbuhan, atau makhluk yang tak bernyawa.
Alegori adalah suatu cerita singkat yang mengandung kiasan. Makna kiasan ini harus ditarik dari bawah permukaan ceritanya. Dalam alegori, nama-nama pelakunya adalah sifat-sifàt yang abstrak, serta tujuannya selalu jelas tersurat. Parabel (parabola) adalah suatu kisah singkat dengan tokoh-tokoh biasanya manusia, yang selalu mengandung tema moral. lstilah parabel dipakai untuk menyebut cerita-cerita fiktif di dalam Kitab Suci yang bersifat alegoris, untuk menyampaikan suatu kebenaran moral atau kebenaran spiritual. Fabel adalah suatu metafora berbentuk cerita mengenai dunia binatang, di mana binatang-binatang bahkan makhluk-makhluk yang tidak bemyawa bertindak seolah-olah sebagai manusia. Tujuan fabel seperti parabel ialah menyampaikan ajaran moral atau budi pekerti. Fabel menyampaikan suatu prinsip tingkah laku melalui analogi yang transparan dan tindak-tanduk binatang, tumbuh-tumbuhan, atau makhluk yang tak bernyawa.
4. Personifikasi atau Prosopopoeia
Personifikasi atau prosopopoeia adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Personifikasi (penginsanan) merupakan suatu corak khusus dan metafora, yang mengiaskan benda-benda mati bertindak, berbuat, berbicara seperti manusia.
Angin yang meraung di tengah malam yang gelap itu menambah lagi ketakutan kami.
Matahari baru saja kembali ke peraduannya, ketika kami tiba di sana. Kulihat ada bulan di kotamu lalu turun di bawah pohon belimbing depan rumahmu barangkali ia menyeka mimpimu.
Personifikasi atau prosopopoeia adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Personifikasi (penginsanan) merupakan suatu corak khusus dan metafora, yang mengiaskan benda-benda mati bertindak, berbuat, berbicara seperti manusia.
Angin yang meraung di tengah malam yang gelap itu menambah lagi ketakutan kami.
Matahari baru saja kembali ke peraduannya, ketika kami tiba di sana. Kulihat ada bulan di kotamu lalu turun di bawah pohon belimbing depan rumahmu barangkali ia menyeka mimpimu.
5. Alusi
Alusi adalah semacam acuan yang berusaha mensugestikan kesamaan antara orang, tempat, atau peristiwa. Biasanya, alusi ini adalah suatu referensi yang eksplisit atau implisit kepada peristiwa-peristiwa, tokoh-tokoh, atau tempat dalam kehidupan nyata, mitologi, atau dalam karya-karya sastra yang terkenal. Misalnya dulu sering dikatakan bahwa Bandung adalah Paris Jawa. Demkian dapat dikatakan: Kartini kecil itu turut memperjuangkan persamaan haknya. Kedua contoh ini merupakan alusi. Ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk membentuk sebuah alusi yang baik, yaitu:
(1) harus ada keyakinan bahwa hal yang dijadikan alusi dikenali juga oleh pembaca;
(2) penulis harus yakin bahwa alusi itu membuat tulisannya menjadi lebih jelas;
(3) bila alusi itu menggunakan acuan yang sudah umum, maka usahakan untuk menghindani acuan semacam itu.
Alusi adalah semacam acuan yang berusaha mensugestikan kesamaan antara orang, tempat, atau peristiwa. Biasanya, alusi ini adalah suatu referensi yang eksplisit atau implisit kepada peristiwa-peristiwa, tokoh-tokoh, atau tempat dalam kehidupan nyata, mitologi, atau dalam karya-karya sastra yang terkenal. Misalnya dulu sering dikatakan bahwa Bandung adalah Paris Jawa. Demkian dapat dikatakan: Kartini kecil itu turut memperjuangkan persamaan haknya. Kedua contoh ini merupakan alusi. Ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk membentuk sebuah alusi yang baik, yaitu:
(1) harus ada keyakinan bahwa hal yang dijadikan alusi dikenali juga oleh pembaca;
(2) penulis harus yakin bahwa alusi itu membuat tulisannya menjadi lebih jelas;
(3) bila alusi itu menggunakan acuan yang sudah umum, maka usahakan untuk menghindani acuan semacam itu.
6. Eponim
Adalah suatu gaya di mana seseorang yang namanya begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Misalnya: Hercules dipakai untuk menyatakan kekuatan; Hellen dari Troya untuk menyatakan kecantikan.
Adalah suatu gaya di mana seseorang yang namanya begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Misalnya: Hercules dipakai untuk menyatakan kekuatan; Hellen dari Troya untuk menyatakan kecantikan.
7. Sinekdoke
Sinekdoke adalah suatu istilah yang diturunkan dan kata Yunani synekdecheshai yang berarti menerima bersama-sama. Sinekdoke adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian dan sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totum pro parte). Misalnya:
Setiap kepala dikenakan sumbangan sebesar Rp 1.000,-
Dalam pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia di
Stadion Utama Senayan, tuan rumah menderita kekalahan 3 – 4.
Sinekdoke adalah suatu istilah yang diturunkan dan kata Yunani synekdecheshai yang berarti menerima bersama-sama. Sinekdoke adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian dan sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totum pro parte). Misalnya:
Setiap kepala dikenakan sumbangan sebesar Rp 1.000,-
Dalam pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia di
Stadion Utama Senayan, tuan rumah menderita kekalahan 3 – 4.
8. Metoniinia
Kata metonimia diturunkan dan kata Yunani meta yang berarti menunjukkan perubahan dan onoma yang berarti nama. Dengan demkian, metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Metonimia dengan demkian adalah suatu bentuk dari sinekdoke.
Ia membeli sebuah chevrolet.
Ialah yang menyebabkan air mata yang gugur.
Pena lebih berbahaya dan pedang.
Ia telah memeras keringat habis-habisan.
Kata metonimia diturunkan dan kata Yunani meta yang berarti menunjukkan perubahan dan onoma yang berarti nama. Dengan demkian, metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Metonimia dengan demkian adalah suatu bentuk dari sinekdoke.
Ia membeli sebuah chevrolet.
Ialah yang menyebabkan air mata yang gugur.
Pena lebih berbahaya dan pedang.
Ia telah memeras keringat habis-habisan.
9. Antonomasia
Antonomasia juga merupakan sebuah bentuk khusus dan sinekdoke yang berwujud penggunaan sebuah epiteta untuk menggantikan nama diri, atau gelar resmi, atau jabatan untuk menggantikan nama diri. Misalnya:
Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
Pangeran yang meresmikan pembukaan seminar itu.
Antonomasia juga merupakan sebuah bentuk khusus dan sinekdoke yang berwujud penggunaan sebuah epiteta untuk menggantikan nama diri, atau gelar resmi, atau jabatan untuk menggantikan nama diri. Misalnya:
Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
Pangeran yang meresmikan pembukaan seminar itu.
10. Hipalase
Hipalase adalah semacam gaya bahasa di mana sebuah kata tertentu dipergunakan untuk menerangkan sebuah kata, yang seharusnya dikenakan pada sebuah kata yang lain. Atau secara singkat dapat dikatakan bahwa hipalase adalah suatu kebalikan dan suatu relasi alamiah antara dua komponen gagasan. Misalnya:
Ia berbarmg di alas sebuah bantal yang gelisah (yang gelisah adalah manusianya, bukan bantalnya).
Ia masih menuntut almarhumah maskawin dari Sinta puterinya. (maksudnya: Ia masih menuntut maskawin dan almarhumah Siti …)
Hipalase adalah semacam gaya bahasa di mana sebuah kata tertentu dipergunakan untuk menerangkan sebuah kata, yang seharusnya dikenakan pada sebuah kata yang lain. Atau secara singkat dapat dikatakan bahwa hipalase adalah suatu kebalikan dan suatu relasi alamiah antara dua komponen gagasan. Misalnya:
Ia berbarmg di alas sebuah bantal yang gelisah (yang gelisah adalah manusianya, bukan bantalnya).
Ia masih menuntut almarhumah maskawin dari Sinta puterinya. (maksudnya: Ia masih menuntut maskawin dan almarhumah Siti …)
11. Ironi, Sinisme, dan Sarkasme
Ironi diturunkan dan kata eironeia yang berarti penipuan atau pura-pura. Sebagai bahasa kiasan, ironi atau sindiran adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dan apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya. Ironi merupakan suatu upaya literer yang efektif karena ia menyampaikan impresi yang mengandung pengekangan yang besar. Entah dengan sengaja atau tidak, rangkaian kata-kata yang dipergunakan itu mengingkari maksud yang sebenarnya. Sebab itu, ironi akan berhasil kalau pendengar juga sadar akan maksud yang disembunyikan di balik rangkaian kata-katanya. Misalnya:
Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebijaksanaan terdahulu harus dibatalkan seluruhnya!
Saya tahu Anda adalah seorang gadis yang paling cantik di dunia ini yang penlu mendapat tempat terhormat!
Ironi diturunkan dan kata eironeia yang berarti penipuan atau pura-pura. Sebagai bahasa kiasan, ironi atau sindiran adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dan apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya. Ironi merupakan suatu upaya literer yang efektif karena ia menyampaikan impresi yang mengandung pengekangan yang besar. Entah dengan sengaja atau tidak, rangkaian kata-kata yang dipergunakan itu mengingkari maksud yang sebenarnya. Sebab itu, ironi akan berhasil kalau pendengar juga sadar akan maksud yang disembunyikan di balik rangkaian kata-katanya. Misalnya:
Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebijaksanaan terdahulu harus dibatalkan seluruhnya!
Saya tahu Anda adalah seorang gadis yang paling cantik di dunia ini yang penlu mendapat tempat terhormat!
Kadang-kadang dipergunakan juga istilah lain, yaitu sinisme yang diartikan sebagai suatu sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Sinisme diturunkan dan nama suatu aliran filsafat Yunani yang mula-mula mengajarkan bahwa kebajikan adalah satu-satunya kebaikan, serta hakikatnya terletak dalam pengendalian diri dan kebebasan. Tetapi kemudian mereka menjadi kritikus yang keras atas kebiasaan-kebiasaan sosial dan filsafat-filsafat lainnya. Walaupun sinisme dianggap lebih keras dan ironi, namun kadang-kadang masih sukar diadakan perbedaan antara keduanya. Bila contoh mengenai ironi di atas diubah, maka akan dijumpai gaya yang lebih bersifat sinis.
Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebjaksanaan akan lenyap bersamamu!
Memang Anda adalah seorang gadis paling tercantik di seantero jagad ini yang mampu menghancurkan seluruh isi jagat ini.
Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebjaksanaan akan lenyap bersamamu!
Memang Anda adalah seorang gadis paling tercantik di seantero jagad ini yang mampu menghancurkan seluruh isi jagat ini.
Dengan kata lain, sinisme adalah ironi yang lebih kasar sifatnya.
Sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih kasar dan ironi dan sinisme. Ia adalah suatu acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir. Sarkasme dapat saja bersifat ironis, dapat juga tidak, tetapi yang jelas adalah bahwa gaya ini selalu akan menyakiti hati dan kurang enak didengar. Kata sarkasme diturunkan dan kata Yunanj sarkasmos, yang lebih jauh diturunkan dan kata kerja sakasein yang berarti “merobek-robek daging seperti anjing”, “menggigit bibir karena marah”, atau “berbicara dengan kepahitan”.
Mulut kau harimau kau.
Lihat sang Raksasa itu (maksudnya si Eebol).
Kelakuanmu memuakkan saja.
Sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih kasar dan ironi dan sinisme. Ia adalah suatu acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir. Sarkasme dapat saja bersifat ironis, dapat juga tidak, tetapi yang jelas adalah bahwa gaya ini selalu akan menyakiti hati dan kurang enak didengar. Kata sarkasme diturunkan dan kata Yunanj sarkasmos, yang lebih jauh diturunkan dan kata kerja sakasein yang berarti “merobek-robek daging seperti anjing”, “menggigit bibir karena marah”, atau “berbicara dengan kepahitan”.
Mulut kau harimau kau.
Lihat sang Raksasa itu (maksudnya si Eebol).
Kelakuanmu memuakkan saja.
12. Satire
Ironi sering kali tidak harus ditafsirkan dari sebuah kalimat atau acuan, tetapi harus diturunkan dari suatu uraian yang panjang. Dalam hal terakhir ini, pembaca yang tidak kritis atau yang sederhana pengetahuannya, bisa sampai kepada kesimpulan yang diametral bertentangan dengan apa yang dimaksudkan penulis, atau berbeda dengan apa yang dapat ditangkap oleh pembaca kritis. Untuk memahami apakah bacaan bersifat ironis atau tidak, pembaca atau pendengar harus mencoba meresapi implikasi-implikasi yang tersirat dalam baris-baris atau nada-nada suara, bukan hanya pada peryataan yang eksplisit itu. Pembaca harus berhati-hati menelusuri batas antara perasaan dan kegamblangan arti harfiahnya.
Ironi sering kali tidak harus ditafsirkan dari sebuah kalimat atau acuan, tetapi harus diturunkan dari suatu uraian yang panjang. Dalam hal terakhir ini, pembaca yang tidak kritis atau yang sederhana pengetahuannya, bisa sampai kepada kesimpulan yang diametral bertentangan dengan apa yang dimaksudkan penulis, atau berbeda dengan apa yang dapat ditangkap oleh pembaca kritis. Untuk memahami apakah bacaan bersifat ironis atau tidak, pembaca atau pendengar harus mencoba meresapi implikasi-implikasi yang tersirat dalam baris-baris atau nada-nada suara, bukan hanya pada peryataan yang eksplisit itu. Pembaca harus berhati-hati menelusuri batas antara perasaan dan kegamblangan arti harfiahnya.
13. Inuendo
Inuendo adalah semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenamya. Ia menyatakan kritik dengan sugesti yang tidak langsung, dan sering tampaknya tidak menyakitkan hati kalau dilihat sambil lalu. Misalnya:
Setiap kali ada pesta, pasti ia akan sedikit mabuk karena terlalu kebanyakan ininum.
Ia menjadi kqya-raya karena sedikit mengadakan komersialisasi jabatannya.
Inuendo adalah semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenamya. Ia menyatakan kritik dengan sugesti yang tidak langsung, dan sering tampaknya tidak menyakitkan hati kalau dilihat sambil lalu. Misalnya:
Setiap kali ada pesta, pasti ia akan sedikit mabuk karena terlalu kebanyakan ininum.
Ia menjadi kqya-raya karena sedikit mengadakan komersialisasi jabatannya.
14. Antifrasis
Antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat, dan sehagainya.
Antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat, dan sehagainya.
Lihatlah sang Raksasa telah tiba (maksudnya si Eebol).
Engkau memang orang yang mulia dan terhormat!
Engkau memang orang yang mulia dan terhormat!
Antifrasis akan diketahui dengan jelas, bila pembaca atau pendengar mengetahui atau dihadapkan pada kenyataan bahwa yang dikatakan itu adalah sebaliknya. Bila diketahui bahwa yang datang adalah seorang yang cebol, bahwa yang dihadapi adalah seorang koruptor atau penjahat, maka kedua contoh itu jelas disebut antifrasis. Kalau tidak diketahui secara pasti, maka ia disebut saja sebagai ironi.
15. Pun atau Paronomasia
Pun atau paronomasi adalah kiasan dengan mempergunakan keiniripan bunyi. Ia merupakan permainan kata yang didasarkan pada kemiripan bunyi, tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya.
Tanggal dua gigi saya tanggal dua.
“Engkau orang kaya!” “Ya, kaya monyet!”
Pun atau paronomasi adalah kiasan dengan mempergunakan keiniripan bunyi. Ia merupakan permainan kata yang didasarkan pada kemiripan bunyi, tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya.
Tanggal dua gigi saya tanggal dua.
“Engkau orang kaya!” “Ya, kaya monyet!”
Komentar
Posting Komentar